ETIKA DAKWAH

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK TERPUJI DAN TERCELA

  1. A.    Pengertian etika

Istilah etika berasal dari bahasa yunani kuno yaitu ‘ethos”  dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti;tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang,  kebiasaan, adat, akhlak ,watak, perasaaan sikap,cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta eta)artinya adalah adat kebiasaan. Arti inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika”. Sacara  etimolgis berarti ilmu tentang apa yang bisa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.[1]……

K Bertens, membedakan etika menjadi tiga arti  yaitu;

  1. Etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
  2. Etika adalah kumpulan asass atau nilai moral.
  3. Etika adalah ilmu tentang yang baik dan buruk.[2]

Dalam ensiklopedia Winker Prins bahwa etika merupakan bagian dari filsafat yang mengembangkan teori tentang tindakan deengan tujuan yang telah dirasionalisasi. Dalam ensiklopedi New American sebagai mana telah  diuraikan oleh Hamzah Yaqub (1993:13) etika adalah kajian filsafat moral yang tidak mengkaji fakta-fakta , tetapi meneliti nilai dan perilaku manusia serta ide-ide tentang lahirnya suatu tindakan.[3]

Etika dapat diartikan beberapa arti berikut:

  1. Pandangan benar dan salah menurut ukuran rasio.
  2. Moralitas atau suatu tindakan yang didasarkan pad aide-ide filsafat.
  3. Kebenaran yang sifatnya universal dan eternal.
  4. Tindakan yang melahirkan konsekuensi logis yang baik bagi kehidupan manusia.
  5. System nilai yang mengabdikan perbbuatan manusia dimata manusia lainnya.
  6. Tatanan perilaku yang mengNut ideologi yang diyakini akan membawa manusia pada kebahgiaan hidup.
  7. Sibol-simbol  kehidupan yang berasal dari jiwa  dalam bentuk tindakan kongkret.
  8. Pandangan tentang nilai perbuatan baik dan buruk yang bersifar relatif dan berganntung pada situasi dan kondisi.
  9. Logika tenntang baik dan buruk suatu perbuatan manusia yang bersumber dari filsafat  kehidupan yang dapat diterapkan dalam pergumulan social , politik, kebudayaan, ekonomi,
  10. Seni, propesionalitas, pekerjaan dan pandangan hidup suatu bangsa.[4]
  1. B.    Pengertian akhlak

            Kata akhlaq berasal dari bahasa arab, yaitu jamak dari kata “khluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkjah laku atau tabiat,  atau tata karma, sopan santun, adab, dan tindakan. Secara  terminologis akhlaq merupakan pranata prilaku manusia dalam segala aspek kehidupan.

Ibnu Maskawih (w. 421H/1030M) mengatakan bahwa akhlaq adalah sifat yanng tertanamdalam jiwa yang mendorongnyauntuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara Imam Al Ghazali (1015- 1111 H) mengatkan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbanngan[5].

Definisi akhlak tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dan memillki lima cirri penting dari akhlak , yaitu;

  1. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam  kuat dalam jiwa seseorang sehingga menjadi kepribadiannya,
  2. Akhlak adalah perbuatan yang dilkukan dengan mudah dan tanpa pemikiran,
  3. Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan, atau tekanan dari luar,
  4. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhny,bukan main-main atau karena sandiwara,
  5. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas.[6]
  1. C.    Pengertian Moral

Kata moral berasal dari bahasa latin “mores” kata jama’ dari mos berarti kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia , moral diterjemahkan dalam arti susila. Moral adalah perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat. Moral merupakan istilah tentang perilaku atau akhlak yang diterapkan pada manusia sebgaai moralindividu maupun sebagai social.[7]

K. Bertens (2007) Mengatakan kata moral berasal dari bahasa Latin Mos,(jamak; mores) yang berarti kebiasaan, adat. Dalam bahasa inggris dan banyak bahasa lainnya termasuk bahasa Indonesia,(pertama kali dimuat dalam KBBI 1988) kata mores dan etika dalam arti yang sama. Jadi etimologi etika sama dengan etimologi kata mores.[8]

EY. Kenter, (2001) Mengartikan moral yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang mejadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya, menyangkut apa yang baik dan yang buruk,, apa yang benar dan apa yang salah.[9]

Konsep moral berhubungan pula dengan konsep adat yang dapat di bagi dalam dua macam adat, yaitu sebagai berikut:

  1. Adat shahihah, yaitu adat yang merupakan adat moral suatu masyarakat yang sudah lama dilaksanakan secara  turun temurun  dari berbagai generasi nilai-nilainya telah disepakati secara normatif dan ttidak bertentangan dengan ajaran-ajaran yang berasal dari agama islam.
  2. Adat fasidah, yaitu kebiasaan yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi bertentangan dengan ajaran Islam.
  1. D.     Pengertia Tabiat:

Tabiat adalah sifat, kelakuan, perangai, kejiwaan seseorang yang bisa berubah-ubah karena interaksi sosial dan sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan. Sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia yanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan .

  1. E.    Pengertian karakter

Karakter adalah watak atau sifat, fitrah yang ada pada diri manusia yang terikat dengan nilai hukum dan ketentuan tuhan. Bersemayam dalam diri seseorang sejak kelahirannya. Tidak bisa berubah, meski apapun yang terjadi. Bisa tertutupi dengan berbagai kondisi.

  1. F.     Pengertian Tatakrama

Tata karma  terdiri atas kata; tata yang berarti adat, norma atau aturan, karma berarti sopan santun atau tindakan. Jadi tata karma adalah norma kebiasaan yang mengatur sopan santun dan disepakati oleh lingkungan

PERSOALAN ETIKA DAKWAH DAN HIKMAH DALAM BERETIKA

  1. 1.     Asumsi urgensi etika dakwah

Pertama, Islam sebagai agama yang mulia mutlak  harus di dakwahkan secara baik dan benar.

Kedua, dakwah itu harus sukses.

Ketiga, dalam berdakwah ada nilai yang harus dipatuhi.

Keempat, dalam berdakwah harus memperhatikan situasi dan kondisi.[10]

  1. 2.     Posisi Etika Dakwah

Secara umum etika dakwah menunjuk pada dua hal yaitu;

Pertama, sebagabi disiplin ilmu yang mempelajari  nilai-nilai dan pembenarannya.

Kedua, sebagai pokok permasalahan disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya dan hokum-hukum tingkah laku.[11]

  1. 3.     Fungsi Etika Dakwah

Etika membantu manusia bertindak secara bebas dan dapat mempertanggungjawabkanya, etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap Dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu manusia dalam mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu ia lakukan.[12]

  1. 4.     Prospek etika dakwah

Etika dakwah tentunya  memiliki peranan yang besar dalam mempersiapkan kader dai yang etis dan professional. Selain iitu profesionalisme juga terlihat dari perilaku  dan apa yang ada dalam dirinya. Setelah seorang dai memiliki nilai-nilai etis,  tentunya akan melahirkan profesionalisme. Jika seorang dai memiliki sifat ini etis dan professional tenntunya kegiatan dakwah akan berjalan secara optimal.[13]

  1. 5.     Sanksi pelanggaran Etika dakwah

Seorang juru dakwah yang mengabaikan ketentuan etik berdakwah ia bukan hanya akan menerima akibat kurang puas atas pelayanan yang diberikan para juru dakwah sehingga memungkinkan juru dakwah menerima perlAKuan yang tidak mengenakan, juga secara mentalitas dan spiritual  seperti; frustasi, hilang semangat dalam berdakwah, dan perasaan bersalah.  [14]

REFERENSI

Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid, Ilmu Akhlak, Bandung, pustaka setia, 2010

E.Y. Kenter, Etika Propesi Hukum,Jakarta, storia Grafika, 2001

 Hajir Tajiri, Etika Dakwah, Widya Padjajaran , Bandung 2009

K. Bertens.Etika.jakarta.Gramedia:2007


[1] K. Bertens.Etika.jakarta.Gramedia:2007 hal. 4

[2] K. Bertens. Hal 6

[3] Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid, Ilmu Akhlak, Bandung, pustaka setia, 2010. hal. 27

[4] Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid. Hal. 28

[5] Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid. Hal.14

[6] Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid. Hal.15

[7]Beni Ahmad Saebani,Abdul Hamid. Hal. 30

[8] K. Bertens. Hal. 4

[9] E.Y. Kenter, Etika Propesi Hukum,Jakarta, storia Grafika, 2001, hal. 4

[10] Hajir Tajiri, Etika Dakwah, Widya Padjajaran , Bandung 2009. Hal. 30

[11] Ibied hal. 31

[12] Ibied hal .32

[13] Ibied hal. 33

[14] Ibied hal. 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s