METODE DAKWAH BIL HIKMAH DAN BIL HAL

BAB I

PENDAHULUAN
            Islam sebagai al-Din Allah merupakan Manhaj al-Bayan atau Way of Life, acuan dan kerangka tata nilai kehidupan. Oleh karena itu ketika komunitas muslim berfungsi sebagai sebuah komunitas yang ditegakkan di atas sendi-sendi ,moral Iman, Islam dan Taqawa dapat direalisasikan secara utuh dan padu karena dia merupakan suatu komunitas yang tidak esklusif karena bertindak sebagai” al-Umma al-Wasalam”, yaitu sebagai teladan ti tengah arus kehidupan yang serba kompleks, penuh dengan dinamika perubahan, tantangan dan pilihan-pilihan yang terkadang sangat dilematis…
            Masuknya berbagai ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai agama, yang cenderung membuat agama menjadi tidak berdaya dan yang lebih lagi ketika agama tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup dalam berbagai bidang. Tentu saja keadaan seperti ini dapat berpengaruh apabila pemeluk agama gagal untuk memberikan suatu peradaban alternatif yang benar dan dituntut oleh setiap perubahan sosial yang terjadi.
            Melihat penomena di atas sudah barang tentu kita khususnya umat Islam dilanda keperhatian yang dapat merusak moral keimanan sehingga mau tidak mau harus dicari solusi yang terbaik yang dikehendaki oleh Islam yaitu melaksanakan dakwah secara efektif dan efisien serta berkesinambungan. Karena Islam adalah agama dakwah yang selalu mendorong umatnya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maka maju mundurnya umat Islam sangat tergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya. Dakwah Islam adalah tugas yang suci yang dibebankan kepada setiap Muslim dimana saja ia berada, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan as-Sunah.
Oleh karena itu agar dakwah dapat mencapai sasaran strategi jangka panjang, tentunya diperlukan suatu sistem manajerial komunikasi baik dalam penataan perkataan maupun perbuatan yang dalam banyak hal sangat relevan dengan nilai-nilai keislaman, dengan kondisi yang seperti itu maka para Da’i harus mempunyai pemahaman yang mendalam bukan hanya menganggap bahwa dakwah dalam frame “ Amar Ma’ruf Nahi Munkar”, yakni hanya sekedar menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa persyaratan.
BAB II
PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Metode
            Kata metode berasal dari bahasa Yunani” Methodos” yang berarti cara atau jalan. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia kata metode mengandung arti” Cara yang teratur dan berpikir secara baik-baik untuk  mencapai maksud dalam ilmu pengetahuan”. Dalam hal ini Hendry Van Lear menjelaskan bahawa metode secara etimologi adalah jalan atau cara untuk melakukan atau membuat sesuatu dengan  sistem dan melalui prosedur untuk memperoleh atau mencapai tujuan yang dimaksud. Jadi metode adalah salah satu sarana atau media yang sangat penting untuk menyembatani antara pemikiran yang dimiliki oleh subjek untuk diberikan kepada objek dalam upaya mencapai tujuan yang telah dtetapkan. Dalam ilmu komunikasi metode dakwah disebut dengan “ The Methode in Message”. Sehingga kejelian dan kebijaksanaan juru dakwah dalam memilih dan memakai metode dakwah sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan dalam menerapkan ajaran Islam dalam masyarakat. Dalam menyampaikan pesan dakwah, metode sangatlah penting peranannnya. Fikhr al-Din al-Razi (544-606) dalam tafsirannya menyebutkan bahwa QS. An-Nahl 125 menjelaskan perintah Allah SWT kepada Nabi  Muhamad SAW untuk menyeruh manusia kepada Islam dengan salah satu dari tiga cara yakni dengan Hikmah, Mauu’ Izhah al-Hasanah, dan Mujaddalah bil al-Thariq al-Hasan. Ketiga metode itu disesuaikan dengan kemampuan intelektual masyarakat yang dihadapi, akan tetapi secara prinsip semua metode dapat digunakan kepada semua masyarakat. Berikut ini pembahasan tentang metode dakwah bil Hikmah dan bil Hall:
1. Metode Dakwah Bil Hikmah
A. Pengertian Metode Dakwah Bil Hikmah
            Hikmah secara Bahasa berasal dari dari Bahasa Arab yakni     ,             ,      ,
( H, K, M) jama’nya yakni Hikmah yakni ungkapan yang mengandung kebenaran dan mendalam. Mana dalam bahasa Indonesia diartikan dengan kata bijaksana, sedangkan kata bijaksana dalam bahasa Indonesia mengandung arti:
-         Memperbaiki (membuat lebih baik) dan terhindar dari kerusakan
-         Pandai dan kuat ingatannya
-         Selalu mempuanyai akal budi (pengalaman dan pengetahuan) arif dan tajam pikirannya.
Muhamad Abduh berpendapat bahwa hikmah adalah pengetahuan rahasia dan faedah dalam tiap-tiap hal. Orang yang memiliki hikmah disebut al-Hakim.
Hikmah menurut Prof. DR. Toha Yahya Umar, MA adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan berpikir, berusaha, menyusun, dan mengatur dengan cara yang sesuai dengan keadaan zaman dengan tidak bertentangan dengan larangan agama.
Sedangkan menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud an-Nasafi, hikmah adalah:
Artinya: Dakwah bil Hikmah adalah dakwah yang menggunakan perkataan yang benar, dan pasti yaitu dall yang menjelaska kebenaran dan menghilangkan keraguan.
Menurut Syekh Zamakhsyari dalam kitabnya” al-Kasyaf” al-Hikmah adalah perkataan yang pasti dan benar. Hikmah adalah dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan atau kesamaran. Selanjutnya Zamarksyari mengatakan hikmah juga diartikan sebagai al-Qur’an  yakni ajaklah mereka (manusia)  mengikuti kitab yang memuat hikmah.
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa al-Hikmah adalah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengna kondisi objektif mad’u. Oleh karena itu, al-Hikmah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara kemampuan teiritis dan praktis dalam berdakwah.
Kata hikmah dengan segala bentuknya dalam al-Qur’an berjumlah 208 kali tersebar dalam beberapa surat. Kata hikmah dalam bentuk Shighat Masdar dijumpai sebanyak 20 kali dan tersebar dalam beberapa ayat dan surat. Kata hikmah ini dalam pemakaiannya sering digandengkan dengan kata kitab Injil, Taurat, sehingga dapat dipahami bahwa kata hikmah itu sebanding dengan Kitab Injil, Taurat atau suatu pelajaran yang datang dari Allah SWT. Sebagaiman firman Allah SWT dalam SQ al-Nahl ayat 125:
Artinya:. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Beberapa Ulama berbeda penafsiran mengenai kata hikmah yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Diantara mereka ada yang menafsirkan hikmah sebagai kenabian dan ada pula al-Qur’an serta adanya pemahaman terhadapnya.
B. Macam-macam Hikmah
            Hikmah terbagi kepada dua macam yakni:
a.       Hikmah Teoritis
Yakni mengamati ini suatu perkara dan mengetahui adanya hubungan
sebab akibatnya secara moral, perintah, takdir dan syara’. Hikmah teoritis ini merujuk kepada ilmu pengetahuan. Sedangkan hikmah praktis merujuk kepada perbuatan yang adil dan perbuatan yang benar. Allah SWT telah memberikan dua jenis hikmah ini kepada para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya dan kepada hamba-hamba yang shaleh yang dikehendaki-Nya.  Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. (QS. As-Syuaraa’:83)
b.      Hikmah Praktis
Yakni memiliki sesuatu pada tempatnya. Hikmah ini terbagi kepada tiga macam yakni:
- Memiliki mata hati yang antara lain meliputi kekuatan persepsi,    intelegensi, ilmu dan kearifan.
-  Mengetahui keadilan ancaman Allah SWT, kepastian janji-janji-Nya serta keadilan hukum-hukum yang bersifat syar’i dan hukum yang berlaku kepada seluruh makhluk-Nya.
- Memberi hak kepada sesuatu dalam arti: jangan melampaui batas, buru-buru dan menunda waktu. Hikamh sangat memperhatiakan ke tiga petunjuk diatas yakni dengan cara memberikan hak kepada setiap perkara, yakni hak dari Allah SWT dengan syari’at dan takdir-Nya. Jika melampaui batas, menunda-nunda batas waktu berarti kita menyalahi dan melanggar hikmah. Inilah yang disebut dengan ketetapan umum tentang hokum sebab akibat yang berdasarkan kepada syari’at dan takdir.
C. Dakwah Bil Hikmah
            Dakwah bil Hikmah mempunyai posisi yang sangat penting yaitu dapat menentukan sukses atau tidaknya dakwah tersebut. Hikmah adalah bekal seorang Da’i  munuju kesuksesan. Tidak semua orang mampu meraih hikmah, sebab Allah SWT hanya memberikannya kepada orang yang layak
mendapatkannya. Barang siapa yang mendapatkannya  maka dia telah memperoleh karunia yang besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:  Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.(QS. Al-Baqarah: 269)
Ayat tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya menjadikan hikmah sebagai sifat dan bagian yang menyatu dalam metode dakwah dan betapa perlunya dakwah, mengikuti langkah-langkah yang mengandung hikmah. Ayat tersebut seolah-olah menunjukkan metode dakwah praktis kepada juru dakwah yang mengandung arti mengajak manusia kepada jalan yang benar dan mengajak manusia untuk menerima dan mengikuti petunjuk agama dan aqidah yang benar.
Hikmah dalam pandangan ilmuan bila dikaitkan dengan tafsiran surat an-Nahl ayat 125 sebagai kerangka dasar metode dakwah yang sangat banyak sekali diantaranya:
a.       Menurut al-Razi hikmah diartikan sebagai dall-dalil yang pasti.
b.      Menurut la-Thabari diartikan sebagai wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhamad SAW.
c.       Sedangkan  Syayyid Qutb (966H/1558M) mengemukakan bahwa dakwah bil hikmah adalah memperhatikan keadaan serta tingkat kesadaran penerima dakwah, memperhatikan kadar materi dakwah yang disampaikan kepada audiens, sehingga mereka tidak dibebani dengan materi dakwah tersebut.
Jadi metode dakwah bil hikmah adalah suatu cara yang digunakan dalam upaya membawa orang lain kepada ajaran islam yakni dengan menggunakan argumentasi yang pasti, bahasa yang menyentuh hati dengan pendekatan ilmu dan akal. Sehingga dakwah dengan metode ini dapat diterima oleh para ilmuwan, cendikiawan dan intelektual. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Abdul al-Wahab Kahili, bahwa metode dakwah bil hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi dan mengungkapkan bahwa metode ini juga bersifat filosof yang dapat menundukkan akal dan tidak ada yang dapat melebihi kedudukan terhadapnya.
2. Dakwah bil-Haal
            Islam adalah agama dakwah artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduran umat islam sangat berhubungan erat dengan dakwah yang dilakukannya. Oleh karena itu al-Qur’an menyebutkan kegiatan dakwah dengan ”Ahsanul Qaula” (ucapan dan perbuaan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:  Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”. (An-Fushilat: 33))
Dakwah seperti yang diungkapkan dalam ayat diatas tersebut tidak hanya dakwah berdemensi ucapan atau lidah tetapi juga dakwah dengan perbuatan yang baik, seperti apa yang  telah  Rasul  SAW lakukan.
A.     Pengertian Dakwah bil-Lisan al-Haal
Secara etimoligi dakwah bil Lisan al-Haal merupakan gabungan dari tiga kata yaitu kata dakwah, lisan dan al-Haal. Kata dakwah (            ) berasal dari kata  (          –           –     ) yang artinya menyeru, memanggil. Kata Lisan   (             ) berarti bahasa. Sedangkan kata al-Haal (         ) berarti hal atau keadaan. Kata Lisan al-Haal mempunyai arti yang menunjukkan realitas kebenaran. Jika ke tiga kata tersebut digabungkan maka dakwah lisan al-Haal mengandung arti “ memanggil, menyeru dengan menggunakan bahasa, keadaan, atau menyeru, mengajak dengan perbuatan nyata.
            Sedangkan secara termonologis dakwah mengandung pengertian: mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan menuntut pada petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mreka mendapatkan kebahagian dunia akhirat.
            Dengan demikian dakwah lisan al-Haal adalah: memanggil, menyeru manusia kejalan Alllah SWT untuk kebahagian dunia akhirat dengan menggunakan bahasa keadaan manusia yang di dakwahi atau memanggil ke jalan Allah untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat dengan perbuatan nyata yang sesuai dengan keadaan manusia.
            Dalam tulisannya M. Yunan Yusuf mengungkapkan bahwa istilah dakwah lisan al-Haal dipergunakan untuk merujuk kegiatan dakwah melalui tindakkan dan perbuatan nyata.
            Demikian juga menurut E. Hasim dalam kamus istilah Islam memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan dakwah lisan al-Haal dalah dakwah yang dilakukan dengan perbuatan nyata, karena merupakan tindakan nyata maka dakwah ini lebih mengarahpada tindakan menggerakkan mad’u sehingga dakwah ini lebih berorentasi pada pengembangan masyarakat.
B.     Akhlak  Sebagai Tiang Dakwah
Sumber tenaga bagi daya tarik itu tidak lagi terletak pada ilmu dan tidak pula pada hikmah. Ilmu dan hikmah hanya pembuka jalan, sumber tenaganya itu terletak pada akhlak pribadi Da’i itu sendiri.
Akhlak secara umum adalah sifat yang mendasar pada diri seseorang yang lahir dari amal perbuatan dengan mudah, tanpa dipikir-pikir dan di timbang-timbang melainkan secara spontan. Baik buruknya amal perbuatan yang lahir secara spontan itu tergantung  pada baik buruknya akhlak pribadi yang bersangkut. Karena yang dibawa oleh da’i itu adalah wahyu Ilahi dan sunah Rasul-Nya. Yakni barang yang hak dan murni yang sebenarnya sudah mengandung daya dan kekuatan tersendiri.
Mau tidak mau, gerak-gerik dalam kejidupan pribadi seorang Da’i itu bukan saja diperhatikan, tetapi juga langsung dijadikan masyarakat sebagai bahan perbandingan terhadap apa yang diajarkannya dan yang dilarangnnya. Yang dilihat dan didengar masyarakat dalam kehidupan kepribadiannya itu bisa menambah kekuatan daya siarnya sebagai pendakwah. Akhlak dan Akhlakul karimah merupakan dua hal yang tidak bias dipisahkan, kalau dakwah hendak berhasil maka banyak hal-hal yang sulit dan tidak dapat diatasi semata-mata dengan ilmu yang kering akan tetapi dapat juga diatasi dengan akhlakul karimah.
Semua risalah ditujukan kepada penyempurnaan akhlak yang mulia. Bagaimana akan melanjutkan dakwah apabila tanpa akhlak pada diri Da’i tersebut? Tanpa adanya akhlakul karimah maka tidak akan ada teladan yang baik, tidak akan ada tuur kata yang menarik, tidak akan ada cara berpisah yang indah, tidak akan ada hubungan rasa yang ikhlas dan mesra, dan dengan demikian tidak akan ada hikmah. Sebaliknya mungkin yang ada hanyalah kecerdikan yang mempesona orang banyak, tetapi hampa dari jiwa iman dan taqwa. Dengan demikian yang mungkin terjadi adalah semacam hiburan untuk umum, selama yang berdakwah berdiri diatas mimbar, sebagaimana yang dapat dihidangkan oleh sandiwara komedi Istambul.
C.     Dakwah bil lisan al-Haal  Sebuah Metode Dakwah
Dakwah bil Lisan al-Haal merupakan sebuah metode dakwah yakni metode dakwah dengan menggunakan kerja nyata. Sebagai sebuah metode dakwah bil lisan al-Haal juga terikat pada prinsip-prinsip penggunaan metode dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penggunaan metode tersebut:
  1. Penerapan metode tidak berlaku selama
  2. suatu metode yang sesuai bagi seorang Da’i belum tentu sesuai dengan Da’i lain.
  3. Metode yang paling sesuai sekali pun belum menjamin hasil yang baik  dan otomatis.
  4. Metode hanyalah suatu pelayanan, (suatu jalan) atau alat saja
  5. Dan tidak ada metode yang 100% baik
D.    Pendekatan Kebutuhna Dalam Dakwah bil-Haal
Dalam kajian psikologi, kebutuhan (need) tidak dapat dipisahkan dari motif. Seseorang (organisme) yang berbuat melakukan sesuatu sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kebutuhan yang ada dalam dirinya atau sesuatu
yang hendak dicapai. Istilah motif mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berprilaku, dan dari kata motif ini terbentuklah kata motivasi.
Sartain dalam Psychology Understanding of Human Behavior menjelaskan bahwa yang dimaksud denagn motivasi adalah suatu pernyataaan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku ke suatu tujuan atau perangsang. Dengan demikian maka motif lahir karena adanya kebutuhan. Kebutuhan seseorang dapat berbeda dengan kebutuhan orang lain dan kebutuhan disini diartikan sebagai:
-         Setiap taraf adalah kebutuhan
-         Suatu kekurangan yang dapat dipengaruhi secara wajar dengan berbagai benda lainnya apabila benda khusus yang diinginkan tidak dapat diperoleh
Maslaw menyusun Hierarki kebutuhan mulai dari kebutuhan biologis dasar sampai kebutuhan psikologis yang sangat kompleks yang hanya akan menjadi penting jika kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan yang ada dalam teori Maslaw sebagai berikut:
1.      Kebutuhan fisiologis (kebutuhan untuk mempertahankan hidup)
2.      Kebutuhan akan rasa aman
3.      Kebutuhan akan penghargaan
4.      Kebutuhan Kognitif: mengetahui, mendalami dan memahami.
5.      Kebutuhan Estetik: Keserasian, ketentraman, keindahan.
6.      Kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya.
Dalam konteks dakwah lisan al-Haal, pemahaman tentang kebutuhan sasaran dakwah mutlak diperlukan. Sebagai contoh berdakwah dikalangan masyarakat miskin tidak efektif  dengan hanya berceramah tetapi akan lebih efektif bila dakwah dilakukan dengan menyantuni mereka, memberi makan, pakaian dan sebagainya. Dakwah tidak hanya mensyaratkan hal-hal yang religius Islami namun juga dapat menumbuhkan etos kerja. Inlah sebenarnya yang diharapkan oleh dakwah bil al-Haal.
E.     Aplikasi Dakwah bil lisan al-Haal pada Masa Kini
Sejak agama Islam masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke V111 agama islam telah mengalami pasang surut. Perkembangan Islam di Nusantara diawali dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti: kerajaan Samudera Pasai dan Perlak. Selanjutnya Islam melebarkan sayapnya ke berbagai penjuru Nusantara.
SElanjutnya Islam mengalami kemunduran pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda dimana kativitas umat Islam terpasung. Politik Belanda terhadap Islam dilandasi dengan rasa curiga dan takut sehingga dengan cermat mereka mengawasi segala sesuatu yang berbau Islam. Kolonialisme tersebut meninggalkan jejak negative yang panjang dalam perkembangan social, cultural, dan ekonomi masyarakat Indonesia., bahkan sampai sekarang. Selain itu juga pemilihan model pembangunan yang dipakai serta kesalahan dalam mengurus pemerintahan dimasa lalu menjadi factor dominant yang mendorong keterbelakangan umat.
            Permasalahan yang dihadapi  umat Islam Indonesia pada dasarnya sudah dipahami dan dimengerti sejak lama, berbagai organisasi telah mencoba menjawab berbagai persoalan tersebut. Muhamadiyah telah mendirikan Sekolah-sekolah , Madrasah-madrasah, Rumah Sakit, surat kabar dan majalah. Begitu juga dengan NU telah mendirikan Pesantren-pesantrennya dan berbagai organisasi Islam lainnya.
            Meskipun berbagai persoalan telah ditangani nampaknya persoalan umat yang begitu banyak masih menuntut kerja ekstra umat Islam. Sekarang kita patut bergembira karena telah banyak muncul organisasi-organisasi ke-Islaman yang bekerja untuk dakwah juga pribadi-pribadi yang secara individual melaksanakan dakwah bil lisan al-Haal. Yang mana dakwah ini telah banyak bekerja misalnya: munculnya  perbankkan-perbankkan Syari’ah, dompet Dhua’fah, dan pundi amal ynag dilakukan oleh stasiun TV dalam rangka mengumpulkan dana untuk kepentingan umat, munculnya majalah-majalah bernuansa Islam, dan lain sebagainya.
            Namun demikian, kiranya perlu digalakkan kembali Ukhuwah Islamiyah dlam bentuk kerja sama antar berbagai organisasi keagamaan atau pribadi-pribadi yang berkecimpung dalam bidang dakwah sehingga akan ada perkembangan kerja antara masing-masing yang dimaksudkan agar lahan dakwah tergarap secara merata.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Hikmah secara bahasa yakni berasal dari bahasa Arab Yakni   ,      ,     (h, k, m) jama’nya hikamyakni ungkapan yang mengandung kebenaran dan mendalam. Hikmah juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan ma’rifah. Hikmah ini terbagi kepada dua macam yakni:
a.       Hikmah Teoritis yakni mengamati inti suatu perkara dan mengetahui
hubungan sebab-akibatnya secara moral, perintah, takdir dan syara’
b.      Hikmah praktis yakni memiliki sesuatu pada tempatnya.
            Jadi Metode bil hikmah adalah metode suatu cara yang digunakan dalam upaya membawa orang lain kepada ajaran Islam dengan menggunakan argumentasi yang pasti, bahasa yang menyentuh hati dengan pendekatan ilmu dan akal.
            Dakwah bil-lisan al-Haal secara etimologi  adalah memanggil, menyeru dengan menggunakan bahasa keadaan atau menyeru, mengajak
dengan perbuatan nyata. Sedangkan secara termonologis dakwah bil-lisan al-Haal adalah mendorang manusia agar berbuat kebajikan dan ikut kepada petunjuk (menyeru mereka) manusia berbuat kebajikan dan melarang mereka (manusia) dari perbuatan munkar agar mereka mendapatkan kebahagian dunia akhirat.
            Jadi dakwah bil-Lisan al-Haal adalah memanggil, menyeru manusia ke jalan Allah SWT untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat dengan menggunakan bahasa keadaaan manusia yang di dakwahi atau memanggil
manusia ke jalan Alllah SWT untuk kebahagia dunia akhirat dengan perbuatan nyata yang sesuai dengan keadaaan manusia.
Ke dua metode dakwah ini sangat besar peranannya dalam dunia dakwah karena kedua metode ini tidak hanya menyampaikan sutu topik kepada audiensnya tetapi metode ini dibarengi juga dengan memahami keadaan audiensnya dan langsung dibarengi dengan perbuatan yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
-         Salmadanis, “Filsafat Dakwah”, Surau, Jakarta, 2003
-         Al Qathani Said Bin Ali,” DAkwah Islam Dakwah Bijak”, Gema Insani Press, Jakarta, 1994
-         Suparta Munzier dan Hefsi Harjani,” Metode Dakwah”, PT Semesta, Jakarta,2006
-         Abdul Ali Halim Mahmud,” Dakwah Fardhiyah”, Gema Insani Press, Jakarta, 1995
-         Alawiyah Tutty, “ Strategi Dakwah”, Mizan, Bandung, 1997
-         Syihab Quraish,” Membumikan al-Qur’an”, Bandung, 1998

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s